Masih
hangat isu tentang Rektor Universitas Indonesia yang memberi gelar Doctor
Honoris Causa kepada Raja Arab Saudi. Banyak sekali pro dan kontra yang beredar
di masyarakat. Bagaimana dan kenapa isu ini bisa menjadi besar? Mari kita
telusuri asal muasalnya. Pertama, mari kita cari tahu sebab musabab Retor UI,
Bpk Gumilar memberikan gelar tersebut kepada Raja negri onta ini.
Gelar Honoris Causa (H.C) / Gelar Kehormatan adalah sebuah gelar
kesarjanaan yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi/universitas yang memenuhi syarat kepada
seseorang, tanpa orang tersebut perlu untuk mengikuti dan lulus dari pendidikan
yang sesuai untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya tersebut. Gelar Honoris
Causa dapat diberikan bila seseorang telah dianggap berjasa dan atau berkarya
luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia.
Hanya
perguruan tinggi/universitas yang memenuhi syaratlah yang diberikan hak secara
eksplisit untuk memberi gelar Doktor Kehormatan. Berikut persyaratan-persyaratannya:
- Pernah menghasilkan sarjana dengan gelar ilmiah Doktor,
- Memiliki Fakultas atau jurusan yang membina dan
mengembangkan bidang ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan bidang ilmu
pengetahuan yang menjadi ruang lingkup jasa dan atau karya bagi pemberian
Gelar, dan
- Memiliki Guru Besar tetap sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang dalam bidang
sebagaimana dimaksud pada poin kedua.
Adapun kriteria bagi jasa dan atau
karya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia sehingga
penggagas/pelakunya dapat menerima gelar Doktor Kehormatan ialah karya atau
jasa yang :
- Yang luar biasa di bidang ilmu pengetahuan
dan teknologi, pendidikan, dan pengajaran,
- Yang sangat berarti bagi pengembangan pendidikan dan
pengajaran dalam satu atau sekelompok bidang ilmu pengetahuan, teknologi,
dan sosial budaya,
- Yang sangat bermanfaat bagi kemajuan atau kemakmuran
dan kesejahteraan Bangsa dan Negara pada khususnya serta umat manusia pada
umumnya,
- Yang secara luar biasa mengembangkan hubungan baik dan
bermanfaat antara Bangsa dan Negara dengan Bangsa dan Negara lain di
bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya, dan
- Yang secara luar biasa menyumbangkan tenaga dan pikiran
bagi perkembangan perguruan tinggi.
(sumber: wikipedia)
Raja
Abdullah sendiri secara objektif dinilai pantas menerima gelar itu karena
perhatiannya pada perkembangan kemanusiaan dan iptek serta menjadikan Saudi
sebagai pusat peradaban Islam moderat. karena usahanya mempromosikan ajaran
Islam moderat, mendukung perjuangan Palestina, dan memulai dialog antar-agama.
Memang benar Arab Saudi sudah banyak membantu Indonesia dalam bidang
kemanusiaan dan pendidikan. Kita tidak bisa memungkiri kenyataan itu. Lagipula,
sebagai negara yang kaya raya dan makmur, memang sudah sepantasnya negara ini
membantu negara lain yang membutuhkan, bukan hanya Indonesia saja.
Alasan lain mengapa rektor UI menurut baca dan
denger gosip sana-sini, UI punya motif politik dan balas budi ke Raja Arab,
karena konon katanya perpustakaan baru UI yang katanya terbesar di Asia Tenggara
itu dapat suntikan dana dari Raja Arab tsb. Jadi, bisa jadi ini bentuk balas
budi bapak rektor kepada Raja Arab, atau mungkin bisa jadi juga ini motif "menjilat", supaya UI bisa dapat bantuan lebih banyak lagi
dari sang Raja Arab.
Kalau motif pribadi si bapak rektor sendiri sih ya..
pikir logis aja, kalau UI dapat banyak bantuan, berarti proyek makin banyak,
kantong si pak rektor juga bakal keisi, dan mungkin dia akan makin terkenal,
yang ujung-ujungnya ya kembali ke motif ekonomi lagi.
Nah, sekarang kita telusuri kontroversi apa saja
yang sudah ditimbulkan dari pemberian gelar ini:
Masyarakat selama ini dijejali berita-berita tentang
TKI yang disiksa oleh majikannya di Arab, bahkan yang paling heboh terakhir
adalah seorang TKI dihukum pancung karena membunuh majikannya. Berita-berita
negatif tentang Arab ini tentu saja membuat masyarakat menilai gelar tersebut sangat
tidak cocok diberikan kepada seorang Raja yang masyarakatnya dinilai sering
melakukan kekerasan dan pemerkosaan, dan tindakan2 lainnya yang sangat tidak
mencerminkan kemanusiaan dan perdamaian.
Mungkin jika kita melihat secara objektif, si raja
Arab ini mungkin pantas2 saja menerima gelar ini, berita yang beredar, beliau
cukup berjasa dalam bidang iptek, kemanusiaan dll. Tapi, apakah jasa-jasanya
dalam bidang perdamaian dan kemanusiaan sudah diterapkan dengan sukses di
negerinya sendiri. Jawabannya?
Kontra terhadap pemberian gelar ini pun bergelora di
mana-mana. Dari mulai Civitas akademika di UI sendiri, sampai anak dari TKI
yang dipancung di Arab Saudi. Sudah jelas mereka akan protes dan tidak setuju
akan keputusan ini.
Kontoversi ttg gelar ini, tidak hanya terjadi di
Indonesia, gelar yang diberikan Presiden Barrack Obama pun diboykot oleh mahasiswa2
di US. untuk lengkapnya silahkan baca di wikipedia
(bagian controversy)
Saya bukan seorang sosiolog, belajar sosiologi pun cuma
di SMA, yang sepertinya kurang membekas di otak, tapi sebagai masyarakat biasa,
saya bingung sama Bapak rektor yang satu itu. Dengan 5 gelar akademis di depan
namanya itu, masa sih dia tidak ‘aware’
akan opini masyarakat yang bakal muncul kalau dia memberikan gelar ini ke Raja
Arab. Untuk seorang intelek, menurut saya tindakan Bpk Prof. Dr. der. Soz. Drs. Gumilar Rusliwa Somantri
merupakan tindakan ceroboh, dan akhirnya menjadi bumerang untuk dirinya
sendiri. Atau mungkin kah dia melakukannya dengan sengaja? Supaya mendongkrak
popularitasnya sendiri? Walaupun image
nya malah jadi negatif? Bisa saja kan? Kalau memang begitu, ya dia cukup sukses
menjalankan misinya.
Pendapat terakhir,
menurut saya isu tentang pemberian gelar kepada raja Arab ini hanya sebagai ‘trigger’ atas kekesalah berbagai pihak,
baik di dalam atau di luar UI yang sudah jengah akan sikap Bapak Rektor yang
menurut saya lagi memang agak aneh. Dari mulai kebijakan-kebijakan kampus,
ambisinya terhadap UI, sampai gaya hidup pribadinya. Jadi saya tidak heran
kalau banyak yang tidak suka sama dia.