Bulan September tahun lalu saya dapat job untuk menjadi interpreter calon-calon pramugari Garuda Indonesia dari negri China. Sebenarnya, ada pula calon pramugari dari Korea, namun yang bertugas sebagai translatornya teman baru saya yang bernama Irma.
Kesan pertama saya melihat calon-calon pramugari ini adalah... wowww cantik cantik ya.. baik yang dari China maupun Korea, semua punya fisik yg oke.tampang dan body, bisa dinilai 8+lah. Apalagi yg dari Korea, kulitnya kinclong2, mulus, nyamuk aja sampe kepleset. hahahhaa :))
Tapi kesempurnaan fisik, sangat tidak mencerminkan kesmpurnaan mental. Apa punya cerita?
Jadi ceritanya mereka akan menjalankan program "jungle survival & camp; character building" di daerah Megamendung, Bogor. Singkat kata, mereka akan diajarin gimana caranya bertahan di hutan dan belajar hidup susah. Tapi.. belom juga sampe hutan, mereka udah semprot sana semprot sini, takut digigit nyamuk. Apalagi yang dari Korea, oles sana oles sini. takut banget mukanya yang mulus kinclong itu jadi item. kalo saya perhatiin, kira2 mereka pakai 3 lapis cream di muka. Ga ngerti juga itu buat apa aja.
Sampainya di hutan, mereka masih suka teriak2 kalo ketemu serangga2 kecil yg berterbangan.. dan saat mereka dipaksa untuk nyebur ke sungai kecil banyak bgt yg ogah2an dan malah ada yg buka sepatu segala..
ckckckck..
And i just wondered.. apakah mereka tidak pernah sesusah ini???memang mereka belum pernahkah sekali pun ke hutan dan berpetualang??
usut punya usut, ternyata memang di China/ Korea model hutannya sama sekali berbeda dengan yang ada di Indonesia. Jadi kalau pun mereka pernah pergi ke hutan di negeri mereka masing2, kondisinya tidak seperti di Indonesia yang minim failitas mewah, dan bisa dibilang "lebih liar". Sedangkan mungkin kalau hutan2 di China/ Korea yg mungkin pernah mereka kunjungi adalah hutan rekreasi, yang sudah dilengkapi dengan fasilitas2 yang mempermudah untuk didaki, dsb.
Oke, kalau masalah kondisi hutan yang berbeda, mungkin saya bisa maklum, mereka "kaget akan kondisi hutan di Indonesia.
The second thing that i wondered is... Mereka tau gak sih tugas sebenarnya seorang pramugari?
mungkin yang selama ini orang awam lihat dari pekerjaan seorang pramugari adalah mereka cantik2 dan sangat beruntung bisa pergi keliling dunia. tapi... tetap saja seorang pramugari tugasnya melayani penumpang di pesawat. MELAYANI, yang artinya adalah PELAYAN, cuma bedanya, ya kerjanya di pesawat, di langit nan tinggi di sana.
saya jadi inget seorang kakak senior saya yang sekarang berprofesi sebagai seorang pramugari di sebuah maskapai terkenal yang berpusat di Hongkong. Waktu saya ngepo-in Facebooknya, keliahatannya sih ya memang asik banget, dia bisa keliling dunia gretongan... ke Amrik, Eropa, Timur tengah, dll.. bahkan sampai bisa dapet pacar bule.. hehehe it's every teenage girls dream, isn't it?
kembali ke pramugari2 yg lagi ditraining di atas, pada akhir sesi jungle survival ini, akhirnya mereka nangkep semua pelajaran di hutan2an ini. intinya ya mereka gak boleh manja, dan dunia kerja mereka nanti bakal lebih keras dari sekedar hutan di Megamendung ini.
pas waktunya untuk perpisahan mereka bahkan sampe nangis2 karena bakal pisah sama mentor2nya, nangis2 a la drama2 korea gitu.. ngeliatnya jadi geli sendiri.. hahahaaha :))
anyway, saya jadi merasa berdosa karena belum sempat menghubungi beberapa orang yang emailnya udah saya catet... hehehe kira2 mereka masih inget saya gak ya :D
this is my personal blog about anything.. enjoy it :)
Showing posts with label just my thoughts. Show all posts
Showing posts with label just my thoughts. Show all posts
Wednesday, February 8, 2012
Monday, September 5, 2011
Kecerobohan seorang intelek
Masih
hangat isu tentang Rektor Universitas Indonesia yang memberi gelar Doctor
Honoris Causa kepada Raja Arab Saudi. Banyak sekali pro dan kontra yang beredar
di masyarakat. Bagaimana dan kenapa isu ini bisa menjadi besar? Mari kita
telusuri asal muasalnya. Pertama, mari kita cari tahu sebab musabab Retor UI,
Bpk Gumilar memberikan gelar tersebut kepada Raja negri onta ini.
Gelar Honoris Causa (H.C) / Gelar Kehormatan adalah sebuah gelar
kesarjanaan yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi/universitas yang memenuhi syarat kepada
seseorang, tanpa orang tersebut perlu untuk mengikuti dan lulus dari pendidikan
yang sesuai untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya tersebut. Gelar Honoris
Causa dapat diberikan bila seseorang telah dianggap berjasa dan atau berkarya
luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia.
Hanya
perguruan tinggi/universitas yang memenuhi syaratlah yang diberikan hak secara
eksplisit untuk memberi gelar Doktor Kehormatan. Berikut persyaratan-persyaratannya:
- Pernah menghasilkan sarjana dengan gelar ilmiah Doktor,
- Memiliki Fakultas atau jurusan yang membina dan mengembangkan bidang ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan bidang ilmu pengetahuan yang menjadi ruang lingkup jasa dan atau karya bagi pemberian Gelar, dan
- Memiliki Guru Besar tetap sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang dalam bidang sebagaimana dimaksud pada poin kedua.
Adapun kriteria bagi jasa dan atau
karya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia sehingga
penggagas/pelakunya dapat menerima gelar Doktor Kehormatan ialah karya atau
jasa yang :
- Yang luar biasa di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan, dan pengajaran,
- Yang sangat berarti bagi pengembangan pendidikan dan pengajaran dalam satu atau sekelompok bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial budaya,
- Yang sangat bermanfaat bagi kemajuan atau kemakmuran dan kesejahteraan Bangsa dan Negara pada khususnya serta umat manusia pada umumnya,
- Yang secara luar biasa mengembangkan hubungan baik dan bermanfaat antara Bangsa dan Negara dengan Bangsa dan Negara lain di bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya, dan
- Yang secara luar biasa menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi perkembangan perguruan tinggi.
(sumber: wikipedia)
Raja
Abdullah sendiri secara objektif dinilai pantas menerima gelar itu karena
perhatiannya pada perkembangan kemanusiaan dan iptek serta menjadikan Saudi
sebagai pusat peradaban Islam moderat. karena usahanya mempromosikan ajaran
Islam moderat, mendukung perjuangan Palestina, dan memulai dialog antar-agama.
Memang benar Arab Saudi sudah banyak membantu Indonesia dalam bidang
kemanusiaan dan pendidikan. Kita tidak bisa memungkiri kenyataan itu. Lagipula,
sebagai negara yang kaya raya dan makmur, memang sudah sepantasnya negara ini
membantu negara lain yang membutuhkan, bukan hanya Indonesia saja.
Alasan lain mengapa rektor UI menurut baca dan
denger gosip sana-sini, UI punya motif politik dan balas budi ke Raja Arab,
karena konon katanya perpustakaan baru UI yang katanya terbesar di Asia Tenggara
itu dapat suntikan dana dari Raja Arab tsb. Jadi, bisa jadi ini bentuk balas
budi bapak rektor kepada Raja Arab, atau mungkin bisa jadi juga ini motif "menjilat", supaya UI bisa dapat bantuan lebih banyak lagi
dari sang Raja Arab.
Kalau motif pribadi si bapak rektor sendiri sih ya..
pikir logis aja, kalau UI dapat banyak bantuan, berarti proyek makin banyak,
kantong si pak rektor juga bakal keisi, dan mungkin dia akan makin terkenal,
yang ujung-ujungnya ya kembali ke motif ekonomi lagi.
Nah, sekarang kita telusuri kontroversi apa saja
yang sudah ditimbulkan dari pemberian gelar ini:
Masyarakat selama ini dijejali berita-berita tentang
TKI yang disiksa oleh majikannya di Arab, bahkan yang paling heboh terakhir
adalah seorang TKI dihukum pancung karena membunuh majikannya. Berita-berita
negatif tentang Arab ini tentu saja membuat masyarakat menilai gelar tersebut sangat
tidak cocok diberikan kepada seorang Raja yang masyarakatnya dinilai sering
melakukan kekerasan dan pemerkosaan, dan tindakan2 lainnya yang sangat tidak
mencerminkan kemanusiaan dan perdamaian.
Mungkin jika kita melihat secara objektif, si raja
Arab ini mungkin pantas2 saja menerima gelar ini, berita yang beredar, beliau
cukup berjasa dalam bidang iptek, kemanusiaan dll. Tapi, apakah jasa-jasanya
dalam bidang perdamaian dan kemanusiaan sudah diterapkan dengan sukses di
negerinya sendiri. Jawabannya?
Kontra terhadap pemberian gelar ini pun bergelora di
mana-mana. Dari mulai Civitas akademika di UI sendiri, sampai anak dari TKI
yang dipancung di Arab Saudi. Sudah jelas mereka akan protes dan tidak setuju
akan keputusan ini.
Kontoversi ttg gelar ini, tidak hanya terjadi di
Indonesia, gelar yang diberikan Presiden Barrack Obama pun diboykot oleh mahasiswa2
di US. untuk lengkapnya silahkan baca di wikipedia
(bagian controversy)
Saya bukan seorang sosiolog, belajar sosiologi pun cuma
di SMA, yang sepertinya kurang membekas di otak, tapi sebagai masyarakat biasa,
saya bingung sama Bapak rektor yang satu itu. Dengan 5 gelar akademis di depan
namanya itu, masa sih dia tidak ‘aware’
akan opini masyarakat yang bakal muncul kalau dia memberikan gelar ini ke Raja
Arab. Untuk seorang intelek, menurut saya tindakan Bpk Prof. Dr. der. Soz. Drs. Gumilar Rusliwa Somantri
merupakan tindakan ceroboh, dan akhirnya menjadi bumerang untuk dirinya
sendiri. Atau mungkin kah dia melakukannya dengan sengaja? Supaya mendongkrak
popularitasnya sendiri? Walaupun image
nya malah jadi negatif? Bisa saja kan? Kalau memang begitu, ya dia cukup sukses
menjalankan misinya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
