Berastagi itu masuk ke dalam Kabupaten Karo di Sumatera
Utara. Jaraknya kurang lebih 2 jam dari Kota Medan. Sepanjang perjalanan tour
Guide kita yang namanya Pak Beny sedikit ceritain tentang wilayah Sumatera
Utara dan sekilas tentang suku Batak.
Mungkin bagi
orang awam cuma tau orang
yang tinggal di Sumatera Utara itu pasti adalah suku Batak, padahal suka Batak
pun dibagi menjadi 5 suku lagi, yaitu Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun,
Batak Pak-pak, dan Batak Mandailing. Sebenarnya mereka sama-sama orang Batak,
tapi hanya dibedakan berdasarkan wilayah saja. Perbedaan lainnya biasanya
adat-istiadat atau tata cara upacara yang sedikit berbeda, pakaian tradisional,
bentuk atap rumah tradisional, dan sebagainya. Sesama orang Batak, jika mereka
bertemu pasti akan menanyakan marga mereka masing-masing, dari nama marga, orang
Batak pasti sudah bisa tau asal orang tersebut dari Batak mana. Misalnya orang
Batak Karo biasanya bermarga: Sembiring,
Kaban, Tarigan, Perangin-angin dll. Lalu Batak Toba misalnya:
Hutagalung, Panjaitan, Siahaan, Sitorus, Rajagugkguk, dll
Di Kabupaten
Karo, tentu saja ini merupakan wilayah kekuasaan mereka. Mayoritas
penduduk Kab. Karo 50% Islam, 40% Kristen, dan 10% agama lain-lain, atau
mungkin belum beragama, atau masih memuja leluhur. Rumah tradisional orang
Batak Karo keliatan dari atap rumah mereka yang banyak siku-sikunya. Katanya
itu menandakan bahwa jaman dahulu 1 rumah itu dihuni oleh banyak keluarga. Bisa
4-5 kepala keluarga, atau bahkan yang paling banyak bisa mencapai 10 kepala
keluarga.
-1.jpg) |
| Kantor Bupati Karo dengan atap tradisional khas Suku Batak Karo |
Bagi suku Batak
Karo, kuliner khas suku mereka adalah BPK, bukan Badan Pemeriksa Keuangan
loh..
, tapi Babi Panggang Karo.
Sepanjang perjalanan menuju Kabupaten Karo, saya
banyak banget ketemu
rumah makan BPK. Ada juga cerita
unik juga tentang orang-orang Batak Karo karena nama mereka biasanya lucu-lucu.
Ada yang menamakan anaknya Si motor, si jatuh, si pulang, dsb, nama-nama ini
disesuaikan dengan sejarah hidup orangnya masing-masing. Misalnya si motor,
karena dulu sang ibu saat mengandung anak ini melihat orang membawa motor, dan
rasanya ingin sekali membeli sepeda motor, jadilah anaknya dinamakan si motor.
Atau si jatuh yang pada saat dilahirkan karena badannya masih licin dari air
ketuban ibunya, sang bayi akhirnya terlepas dari pegangan sang bidan dan
terjatuh ke bawah, maka dinamakanlah si jatuh. Kalau si pulang, pada saat
dilahirkan ayahnya pas pulang dari medan perang.
Eh.. jadi melenceng ke orang Batak nih… balik lagi ke
Berastagi ya.
No comments:
Post a Comment