this is my personal blog about anything.. enjoy it :)

Tuesday, November 25, 2014

Trip to North Sumatera (Part-7: Oleh-oleh, Istana Maimun)

Perjalanan dari Parapat kembali ke Medan kami melewati jalan trans Sumatera, sepanjang perjalanan masih bisa lihat pemandangan Danau Toba yang came bener. Alam Sumatera emang masih sangat asri dan masih banyak hutan lebat dengan pepohonan yang rimbun dan sangat tinggi, paling gak yang keliatan dari pinggir jalan sih ya.. hehehhee... Saya berharap pohon-pohon ini jangan pernah ditebang cuma untuk buka lahan atau buat bangunan, soalnya kalau gak ada pohon-pohon itu, mungkin Sumatera gak bakal se-caem ini lagi.



Dari perjalanan kembali menuju kembali ke Medan, kami melintasi Kabupaten Pematang Siantar, dari pinggir jalan kita juga bisa lihat perkebunan karet PT. Bridgestone dan perkebunan kelapa sawit PT. Lonsum dan perusahaan negara PTPN. Di Ssiantar ini kita juga mampir di toko oleh-oleh 
terkenal bernama PATEN. Pedagannya keluarga keturunan Tiongkok, di sini dijual berbagai macam produk makanan kecil terutama yang berbahan dasar kacang. Lucunya nama-nama makanan kecil ini hampir sama semua, dan cuma pengulangan suku kata, yaitu Ting-ting, Tang-tang, Teng-teng, Pang-pang, Ping-ping, Pong-pong, entah kurang kreatif atau cuma buat lucu2an aja biar gampang diinget orang. Hehhehe…  Di toko kita bisa nyicipin testernya supaya pembeli bisa nyobain perbedaan rasa dari nama-nama makanan tersebut.  Harganya cukup murah meriah, cukup 25rb saja untuk 1 kotak. 

liat tuh si jilbab kuning ngabisin testernya :))

Sesampainya di Medan, kita langsung menuju Istana Maimun yang sangat terkenal. Istana Maimun adalah istana kesultanan Deli di Sumatera Utara. Maimun sendiri adalah nama permaisuri Sultan. Sampai sekarang, kesultanan ini masih ada, dan saat ini Raja/Sultanke 15 dari Kesultanan Deli ini  masih berumur 15 tahun, dan bersekolah di Makassar. Ayah dari Sultan Deli yang sekarang ini yaitu Sultan ke-14 adalah seorang tentara dan wafat di Aceh pada saat bertugas operasi militer di sana.
Istana Maimun ini menurut saya sebenernya arsitekturnya sangat bagus sekali dan banyak sekali barang-barang antik di dalam Istana, tapi sayang sekali pemeliharaannya sangat kurang. Di dalam istana ada sebuah ruangan yang seharusnya dijadikan ruang pertemuan malah diisi dengan pedagang yang menjual souvenir dan menyewakan baju atau kostum kerjaan melayu. Suasana di dalam istana malah tampak kumuh karena pedagang souvenir ini, jadi terlalu dikomersilkan. Malah di sebelah samping Istana ini seperti dijadikan gudang untuk menyimpan kursi-kursi dan peralatan kebersihan. Sangat tidak sedap dipandang mata deh. Belum lagi fasilitas toiletnya jelek banget, padahal pengunjung di sana sudah membayar 5000 rupiah untuk masuk ke Istana, tapi sepertinya uangnya bukan untuk pemeliharan istana.
At the Maimun Palace
Keluarga kesultanan Deli sebenarnya masih ada yang tinggal di sana, bahkan orang yang memadu kami diIstana ini pun masih keluarga Sultan. Di bagian bawah yang masih bagian dari istananya di samping kanan kirinya seperti ada rumah untuk ditinggali, sempat mengobrol dengan seorang ibu yang tinggal di sana, dan beliau juga masih termasuk keluarga kesultanan, tapi kalu dilihat dari pakaian dan ngintip isi rumahnya, sepertinya keluarga Sultan saat ini sudah tidak berbekas keturunan darah birunya. Mereka sama saja seperti rakyat biasa, malah si ibu ini cuma jadi penjaga toilet di Istana Maimun ini. Mungkin karena sejak Indonesia merdeka, pemimpin daerah seperti Sultan sudah tidak diakui lagi, jadi fungsi mereka pun kini sudah berubah bukan sebagai pemimpin daerah lagi, hanya sekedar memelihara tradisi dan kebudayaan setempat saja. 

No comments: