Perjalanan dari Parapat kembali ke Medan kami melewati jalan
trans Sumatera, sepanjang perjalanan masih bisa lihat pemandangan Danau Toba
yang came bener. Alam Sumatera emang masih sangat asri dan masih banyak hutan
lebat dengan pepohonan yang rimbun dan sangat tinggi, paling gak yang keliatan
dari pinggir jalan sih ya.. hehehhee... Saya berharap pohon-pohon ini jangan
pernah ditebang cuma untuk buka lahan atau buat bangunan, soalnya kalau gak ada
pohon-pohon itu, mungkin Sumatera gak bakal se-caem ini lagi.
Dari perjalanan kembali menuju kembali ke Medan, kami
melintasi Kabupaten Pematang Siantar, dari pinggir jalan kita juga bisa lihat
perkebunan karet PT. Bridgestone dan perkebunan kelapa sawit PT. Lonsum dan
perusahaan negara PTPN. Di Ssiantar ini kita juga mampir di toko oleh-oleh
terkenal bernama PATEN. Pedagannya keluarga keturunan Tiongkok, di sini dijual
berbagai macam produk makanan kecil terutama yang berbahan dasar kacang.
Lucunya nama-nama makanan kecil ini hampir sama semua, dan cuma pengulangan
suku kata, yaitu Ting-ting, Tang-tang, Teng-teng, Pang-pang, Ping-ping,
Pong-pong, entah kurang kreatif atau cuma buat lucu2an aja biar gampang diinget
orang. Hehhehe… Di toko kita bisa
nyicipin testernya supaya pembeli bisa nyobain perbedaan rasa dari nama-nama
makanan tersebut. Harganya cukup murah
meriah, cukup 25rb saja untuk 1 kotak.
![]() |
| liat tuh si jilbab kuning ngabisin testernya :)) |
Sesampainya di Medan, kita langsung menuju Istana Maimun
yang sangat terkenal. Istana Maimun adalah istana kesultanan Deli di Sumatera
Utara. Maimun sendiri adalah nama
permaisuri Sultan. Sampai sekarang, kesultanan ini masih ada, dan saat ini Raja/Sultanke 15 dari Kesultanan Deli ini masih berumur 15 tahun, dan bersekolah di
Makassar. Ayah dari Sultan Deli yang sekarang ini yaitu Sultan ke-14 adalah seorang tentara
dan wafat di Aceh pada saat bertugas operasi militer di sana.
Istana Maimun ini menurut saya sebenernya arsitekturnya
sangat bagus sekali dan banyak sekali barang-barang antik di dalam Istana, tapi
sayang sekali pemeliharaannya sangat kurang. Di dalam istana ada sebuah ruangan
yang seharusnya dijadikan ruang pertemuan malah diisi dengan pedagang yang
menjual souvenir dan menyewakan baju atau kostum kerjaan melayu. Suasana di dalam istana malah tampak kumuh karena pedagang
souvenir ini, jadi terlalu dikomersilkan. Malah di sebelah samping Istana ini
seperti dijadikan gudang untuk menyimpan kursi-kursi dan peralatan kebersihan.
Sangat tidak sedap dipandang mata deh. Belum lagi fasilitas toiletnya jelek banget, padahal pengunjung di sana sudah membayar 5000
rupiah untuk masuk ke Istana, tapi sepertinya uangnya bukan untuk pemeliharan
istana.
![]() |
| At the Maimun Palace |
Keluarga
kesultanan Deli sebenarnya masih ada yang tinggal di sana, bahkan orang
yang memadu kami diIstana ini pun masih keluarga Sultan. Di bagian bawah yang masih bagian dari istananya
di samping kanan kirinya seperti ada rumah untuk ditinggali, sempat mengobrol
dengan seorang ibu yang tinggal di sana, dan beliau juga masih termasuk
keluarga kesultanan, tapi kalu dilihat dari pakaian dan ngintip isi rumahnya,
sepertinya keluarga Sultan saat ini sudah tidak berbekas keturunan darah
birunya. Mereka sama saja seperti rakyat biasa, malah si ibu ini cuma
jadi penjaga toilet di Istana Maimun
ini. Mungkin karena sejak Indonesia merdeka, pemimpin daerah seperti Sultan
sudah tidak diakui lagi, jadi fungsi mereka pun kini sudah berubah bukan
sebagai pemimpin daerah lagi, hanya sekedar memelihara tradisi dan kebudayaan
setempat saja.


No comments:
Post a Comment